Home » » Hukum Jual Beli dalam Islam

Hukum Jual Beli dalam Islam

Sebagai pembuka, ada satu kaidah dalam khazanah keilmuwan Islam yang menyebutkan bahwa "Hukum asal dari semua bentuk mu'amalah adalah boleh." Dalam bahasa Arab kaidah ini tertuli sebagai berikut;

اَلْأَصْلٌ فِيْ الْمُعَامَلَةِ اَلْإِبَاحَةِ

Demikianlah, betapa luas dan lapang medan yang diberikan kepada kita. Hingga kita leluasa bergerak dalam medan kebolehan dan kehalalan dalam aktifitas kita dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sesama kita.

Dalam hidup bermasyarakat, kita harus tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa, dan tidak tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Kaum muslimin sudah banyak tahu, bahwa interaksi dan pergaulan berada dalam rentang yang serba boleh kecuali dibatasi pada aturan-aturan yang sudah tercatat dalam prinsip-prinsip agama.

Aspek mu'amalah adalah medan yang luas. Terbentang luas meliputi seluruh aktifitas kita dengan sesama kita, baik yang seagama atau berbeda agama. Kita boleh bergaul dan melakukan interaksi dan transaksi. Tentunya hukum Islam telah mengatur semuanya dengan aturan yang lengkap, mendalam, filosofis, argumentatif dan detil.

Jual beli adalah bagian dari mu'amalah. Bahkan Allah memakai kata ini dalam menggambarkan betapa tingginya derajat dan martabat seorang anak manusia yang telah menjual dirinya kepada Allah yang maha kaya dan maha luas karunanya. Kalau seseorang telah menjual dirinya kepada Allah dan Allah telah membelinya, maka itu keuntungan yang sangat besar, dan harga yang dibayarkan Allah juga sangat berharga dan teramat berharga untuk dihitung dan disebutkan. Orang itu akan mendapatkan harga yang tidak pernah mata dunia melihatnya, tidak pernah terdengar oleh pendengaran dunia, dan tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh manusia. Maka pantas ulama mengatakan bahwa,

اَلدِّيْنُ مُعَامَلَةٌ
Agama ini adalah mu'amalah

Namun yang dimaksud mu'amalah dalam catatan ini adalah mu'amalah sesama manusia dan lingkungan sekitar. maka jual beli yang dimaksud dalam catatan ini juga adalah jual beli yang dilakukan antara sesama kita.

Hukum Jual Beli Menurut Islam

Sudah kami jelaskan di awal, bahwa hukum asal dalam bermu'amalah adalah boleh. Maka secara mudah kita dapat mengetahui bahwa jual beli sebagai bagian mu'amalah berati hukumnya boleh. Kemudian untuk menentukan hukum sesuatu tentu harus ada rujukan dan dalil sebagai landasan dan rujukan hukum itu.

Dalam Islam hukum bersumber dari Al Qur'an, Assunnah, Ijma' dan Qiyas. ada juga sumber-sumber lain yang semua merujuk pada sumber hukum Al Qur'an dan Assunnah. Ini berarti hukum Islam itu harus berdasarkan Al Qur'an, Assunnah, Ijma' dan Qiyas. Bila tidak maka itu bukan hukum Islam, ata hanya merupakan pendapat pribadi.

Dalil Hukum Jual Beli Menurut Islam

Dalam al Qur'an Allah swt berfirman;

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah : 275).

Ayat ini adalah menjelaskan secara jelas hukum jual beli menurut Allah swt. Ia menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Kemudian ayat lain dalam Al Qur'an yang menjadi landasan hukum bolehnya jua beli adalah, Al Qur'an surat An nisa ayat 29 berikut ini;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu makan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu” (QS. An-Nisa : 29).

Dalil dari Assunnah sangat bayak bahkan merinci hal ihwal jual beli ini. Adapun dalil yang secara global dan tegas menghalalkan jual beli diantaranya;
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ، حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ المُنْكَدِرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى»
Dalam hadits ini dijelaskan tentang salah satu bagian dalam jual beli. Berarti bila sudah ada petunjuk dan tatacara atau adab dalam jual beli, maka jual beli itu halal dan boleh. Rasulullah menjelaskan bahwa Semoga Allah mengasihi orang yang toleran, yang apabila ia membeli tidak banyak nawar, dan bila menjual ia tepat waktu atau memberi lebih tanpa diminta.

Kemudian karena nash al Qur'an dan Assunnah telah menghalalkan jual beli, maka sumber hukum yang ada di bawahnya harus mengikuti. Begitu pula tidak ada jalan bagi ijtihad pada sesuatu yang telah di atur dalam nash yang pasti. Dalam hal ini kaidah mengatakan,

لآَ اجْتِهَادَ فِيْ مَوْرِ النَّاسِ

Demikianlah catatan kami berkaitan dengan hukum jual beli. Masih banyak hal yang perlu kita ketahui berkaitan dengan aspek jual beli ini. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Apa syata, rukun, kaifiat dan ketentuannya dapat kita kaji dalam kitab-kitab fiqih yang lebih panjang lebar. Wallahu a'lam

0 comments:

Posting Komentar