Home » » Bapak Tardi: Dari Rancabuaya hingga Santolo

Bapak Tardi: Dari Rancabuaya hingga Santolo

Pertemuan awal dengan Bapak Tardi adalah saat ada acara perpisahan KKN dari para mahasiswa STIT Insida Jakarta Pokjar Cidaun. Saat itu hari ke-2 saya beserta bapak Apipudin berkunjung ke rumah orang tua Abdul Karim, salah seorang siswa MAS Al-Holiliyah Cidaun. Saat itu kami baru tahu bahwa Bapak Tardi ini adalah bapaknya Abdul Karim.

Kami sangat lama sekali mengobrol. Memperbincangkan asal dan sejarah masing-masing sangat menyenangkan. Sudah menjadi kebiasaan saya suka sekali mendengarkan cerita-cerita orang lain lebih lebih cerita dari para orang tua, baik kisah hidupnya, petualangannya, kemahirannya, atau sekedar mendengarkan nasihat dan kelakar.


Saat itu ia banyak bercerita tentang kisah hidupnya yang lama di daerah Jawa. Ia sempat mengungkapkan bahwa ia "hanjelu" atau menyesal ketika di suruh orang tuanya untuk pulang dan merawat mereka. Saat itu ia belum mau pulang. Ia menyesal karena sesaat kemudian orang tuanya tiada.

Pak Tardi dan Kang Apip terus saja berbincang dan saya setia mendengarkan percakapan mereka sambil sekali-kali menyela, nimbrung, menambahkan dan terkadang menjawab bila ditanya.

Sampailah saat Pak Tardi mnyampaikan pengalaman ketika ia di Bogor. Ia bercerita bahwa ia pernah belajar pijat refleksi di lapangan IPB, ia sempat dididik oleh dosen dari Jerman. Beberapa hari kemudian setelah pelatihan ia direkrut untuk praktek di sana.

Saat itu saya di tanya tentang penyakit apa yang ada. Saya langsung menunjukkan bahwa saya punya keluhan di kaki. Tidak ragu lagi ia meraba kaki saya dan mulai mengusapnya dengan pelan. Ia mengambil minyak yang katanya di pesan dari Arab. Kemudian ia melumuru kaki saya dengan minyak itu dan mulai memijat telapak kaki saya dengan pelan.

Beberapa menit berjalan pijatan semakin terasa kuat dan saya merasakan panas dan sakit ketika pijatan-pijatan tangannya mulai menekan. Satu jam sudah saya dipijit dengan teriakan dan badan penuh keringat.

Sambil memijat saya saya Pak Tardi bercerita bahwa dulu 4 tahun ke belakang ia sering praktek di sekitar Rancabuaya hingga Santolo. Masyarakat sana banyak sekali yang datang. Bahkan ia sangat dikenal hingga ia istilahkan dengan "diboro" saking banyaknya orang yang ingin merasakan pijat refleksi Pak Tardi. Itu semua karena mereka merasakan keampuhan pijat refleksinya.

Bila sesekali ia datang ke daerah Rancabuaya dan Santolo dengan muka ditutup aar tidak dikenali tetap saja masyarakat pada tahu karena tukang ojeknya yang ngasih kode bahwa ia membawa Pak tardi.

Bagi yang ingin mendapatkan jasa pijat refleksi Pak Tardi bisa langsung ke Gelarpawitan di kampung Cikalapa. Tempatnya tidak jauh dari Kantor desa, terus saja ke utara.

0 comments:

Posting Komentar