Home » » 10 Kegiatan pada Saat-Saat Perpisahan KKN Mahasiswa STIT Insida di Gelarpawitan - Cidaun

10 Kegiatan pada Saat-Saat Perpisahan KKN Mahasiswa STIT Insida di Gelarpawitan - Cidaun

Tepat tanggal 14 Mei saat kami sedang melaksanakan hari terakhir Milad Yayasan Al-Holiliyah yang ke 28, kami diberitahu oleh Bapak Budi sebagai pengelola STIT Insida Jakarta Pokjar Cidaun, bahwa acara perpisahan KKN Mahasiswa kana dilaksanakan mulai hari Jum'at dan puncaknya pada malam Minggu.

Maka kami merencanakan untuk berangkat ke lokasi tepat sebelum jum'at. Lokasi yang kami tuju adalah Desa Gelarpawitan - Cidaun. Tepatnya jam 09 siang kami akan berangkat dan berkumpul terlebih dahulu di MA Al-Holiliyah Cidaun. Inilah kegiatan pertama kami.

Kemudian besoknya kami telah berkumpul di MA Al-Holiliyah tepat waktu. setelah memeriksa barang-barang perlengkapan yang akan kami bawa maka semua siap berangkat. Para mahasiswa yang memandu kami berangkat terlebih dahulu dan sebagian sudah ada yang ada di lokasi untuk bersiap-siap menyambut kedatangan kami. Kami diberi informasi bahwa tempat yang akan kami tuju sebagai persinggahan adalah rumahnya Bapak haji Momon. Ia adalah ayah dari Tinta Herawati salah seorang mahasiswi STIT Insida.

Kami melalui jalur polohok belok kiri. Pertama kali yang akan dilalui adalah jalan bercadas yang cukup sulit karena tidak rata dan banyak cekungan dan gundukan cadas di tengah jalan. Stelah itu kami sampai di warung pinggir jalan dan berhenti sejenak. Minum kopi sejenak dan mengambil nafas karena kami tahu medan di depan sangat berat.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. anda tahu ekstrimnya seperti apa? silahkan datang saja ke sana. Pertama adalah turunan yang tidak begitu tajam. namun jangan kaget bila setelah anda ketemu warung akan anda temukan jalan yang paling sulit. Sudah sempit, berbatu, menurun tajam, dan setelah itu rawayan. Anda tahu rawayan ? jembatan goyang asli Indonesia... itulah rawayan.


Untuk melewati jalan ini kita harus hati-hati. Turunkan gigi ke gigi satu. Bila motor anda matic amaka siapkan rem belakang dan depan anda. Kemudian melajulah pelan-pelan karena tanpa digas pun motor akan melaju.

Sebaiknya melewati jalan itu kita harus satu motor satu motor. Dan pelan-pelan karena kita bukan orang sana yang suka bawa kayu dengan motornya lewat jalan ini.

Setelah kami melewati turunan tajam itu sampailah di mulut Rawayan. Lagi lagi kami harus berhenti dan menunggu motor lain lewat atau motor kawan kita sampai di seberang sungai.

Setelah sampai di seberang sungai kami berteduh dan saat itu ada anak-anak SD yang sedang beristirahat juga. ketika ditanya-tanya ternyata tempat mereka sekolah sangat jauh. Anda tahu jauhnya ? sekitar 7-8 KM. Luar biasa... Kami mengambil photo dengan mereka di sana.


Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Melewati tanjakan berkoral batu dan tiba di sebuah warung dekat masjid. kami istirahat dan makan-makan jajanan. Ibu-ibu dan bapak bapak di sana sanga baik dan ramah. Kmi berbncang agak lama. Kemudian kami bersiap-siap untuk berwudhu dan Shalat Jum'at di Sana.

Kemudian kami shalt Jum'at dengan khusyu. Lalu setelah selesai shalat kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Dan selama 30 menit kami berkendara sampailah di rumah Bapak Budi. Beliau adalah rekan Bapak Budi dosen STIT Insida ... hehe Budi dan Budi. Kami lalu menjenguk Bapak Haji Mamt yang sakit. Beliau adalah ayah dari Ibu Tanti, Farida, Syarif Basuni, siti Maryam yang semuanya bersekolah di MA Al-Holiliyah Cidaun. Bapak Mamt sendiri pernah berperan di Masjid Al-Maidah Kaum Kidul sebagai Imam atau sebagai pendidik.

Setelah itu kami langsung ke rumah Bapak Momon yang menjadi tujuan kami. Anda tahu bahgaimana suasananya? sangat nyaman dan sejuk. Sempat terpikir untuk membangun rumah di sini. Listrik sudah masuk televisi juga sudah baik dengan beragam sinyal yang dapat di akses. Sayang tidak ada jaringan Internet dan signal HP tidak ada, lemah di beberapa tempat, dan konstan di beberapa tempat lain.


Maka dengan ini, kami tidak bisa mengakses internet dan memosting artikel perjalanan kami. Hanya beberapa tulisan tentang kondisi Gelarpawitan yang bisa kami tuliskan di laptop kami.

Kemudian hal lain yang merupakan agenda adalah memburu signal HP. Ya kami sering kali melakukan pencarian signal. Masyarakat di sana mengetahui titik-titik mana yang ada signal line. Diantaranya di Cikalapa, di Ciburial, dan di warung dekat kantor Desa. Namun itu tidak konstan dan tidak menyebr luas.

Selain itu di sore hari kita bisa menikmati suara tongeret yang sangat keras dan khas. ini. Saya termasuk pengagum serangga berbunyi keras suaranya. Luar baiasa makhluk kecil bisa bersuara sekeras dan sekonstan itu.

Kami beristirahat dengan tuan ruamah dan sesaat kemudian Ashar pun tiba. Kami harus shalat melaksanakan mahdhohnya ibadah. Anda tahu musholla dan fasilitasnya? luar biasa, sederhana namun alangkah nyaman dengan air pancuran yang tanpa henti.

Setelah itu kami siap untu makan sore yang telah disediakan tuan rumah. Sangat lahap kami makan. Meskipun badan kami - saya khususnya- seperti kurang bergairah dan merasaan agak sakit namun tidak mengurangi lahapnya santapan kami.


Setelah itu, sore hari kami berkunjung ke rumah Eko salah seorang mahasiswa asli Gelarpawitan. sebelumnya kami singgah di sebuah toko yang cukup lengakap. Kami membeli sandal dan peralatan mandi, semuanya dibayarin pa Budi ... hehe.


Setelah dari rumah Eko kami kembali ke rumah bapak Momon dan para mahasiswa telah berbenah dan membawa barang-barang dan perlengkapan ke rumah Bapak Dasep yang lapang dan bertingkat. Setelah itu kami shalat Maghrib dan berjanji akan berkumpul tepat setelah Shalat.

Semua telah hadir baik para Dosen maupun para mahasiswa. Penulis merasakan masalah di badan yang semakin menghangat saja. Kami mengikuti rapat rencana kegiatan dan pembagian tugas dengan berbaring.


Setelah selesai saya langsung masuk kamar dan segera tertidur hingga pukul 03.00 dini hari. Saat itu kami sempat menulis beberapa artikel setelah selesai shalat dan berdo'a.

Besoknya kami telah bersiap-siap. Bapak Budi dan Bapak Agus akan menemui Pak Kades dan kami beserta Bapak Apip akan mengikuti para mahasiswa yang akan bakti sosial. Setelah makan pagi kami siap untuk beraktifitas.


Setelah agak lama di dekat kantor desa kami berangkat ke Cikalapa untuk menemui orang tua Abdul Karim. Kami sempat mencari-cari dan baertanya ke orang-orang setempat. Setelah itu kami singgah dan menyimpan motor di warung terdekat. Kami ambil poto dan segera masuk ke rumah.


Di sana kami berbincang dengan Bapaknya Abdul Karim. Setelah berbincang ternyata saya dan Kang Apip saudaraan sama beliau. Dan kami baru tahu bahwa beliau ahli di bidang pijat refleksi. Saat ia bekerja dan tinggal di Bogor ia sempat belajar teknik pijatan ini di IPB bersama dosen-dosen dari Jerman. Maka tidak ragu lagi saya langsung diperiksa dan segera dipijit. Sakitnya bukan main. Hampir satu jam saya dipijat dan keringat langsung membanjiri tubuh saya. Saat itu Abdul Karim sedang bersap-siap untuk membakar daging ayam untuk makan siang kami.


Setealah sayan dipijit saya langsung shalat zhuhur. Sekarang giliran Kang Apip yang dipijat. Sama seperti saya beliau juga mengaduh kesakitan dan beberapa kali sempat meminta Aki untuk menghentikan pijatannya. Setelah itu kami menyantap bakar ayam dengan lahap.

Setelah dari Cikalapa kami kembali ke Rumah Haji Dasep dan bergabung bersama mahasiswa. Saat itu Bapak Deni Sugilar dan Aris-artis Alho Entertainment yang akanmengisi acara malam hari telah tiba. Kami langsung berlatih sampai menjelang maghrib. setelah itu kami makan sore dan lalu Shalat Maghrib.


Sementara Alho Entertainment berlatih, saya ikut bersama mahasiswa untuk melaksanakan perlombaan. Diantara yang saya saksikan adala lomba panjat bambu.


Setelah itu kami siap-siap untuk check sound di panggung. Sayang bapak yang mengurusi soundnya belum datang hingga datang waktu Isya. Dan setelah shalat kami juga harus menunggu datangnya teknisi sound. Akhirnya setelah beberapa saat kami langsung check sound. Kemudian berjalanlah acara Isra Mi'raj dan perpisahan KKN seperti yang seharusnya. Dan acara selesai sampai pukul 12. Kami langsung istirahat.


Pagi hari Jam 07.00 ada kabar duka yang kami langsung dengar dari pengeras suara di Masjid Gelarpawitan bahwa Bapak Haji Mamat meninggal dunia. Ghafarallahu dzunubahu wasatara 'uyuubahu waj'alil jannata matswahu. Kami lansung saja berpamitan kepada tuan rumah dan langsung menuju rumah bapak Mamat untuk melayat. Setelah dari sana kami langsung pulang ke Cidamar.

0 comments:

Posting Komentar