Home » » Berobat ke Bayongbong Melewati Santolo dan sayang Heulang

Berobat ke Bayongbong Melewati Santolo dan sayang Heulang

Sudah satu minggu yang lalu badan saya terkena penyakit aneh. Apakah penyakit anehnya ...?? Kok aneh ..??? Emang Penyakit apa ..?? dan menyerang bagian apa ???

Ya bagi saya sangat aneh ...

Pertama, penyakit ini tiba-tiba saja ada, dia menyerang mata kaki sebelah kanan. Kejadiannya tiga hari sebelum berangkat ke Bandung untuk satu keperluan. Saya berangkat ke Ciwidey terus sampai KPAD Geger Kalong dan singgah di Cihampelas sampai ke Jatinangor Town Squere. Selama perjalanan itu terus terang mas brow kaki saya ini panas dan kaku serta sakitnya sangat-sangt hingga memasang dan menempatkan standard motor dan memasukkan gigi pertama seakan tak kuasa saya ini.

Saya ingat-ingat lagi memang saya tidak pernah jatuh atau keseleo akhir-akhir ini. Saya pernah mendengar itu rematik dan asam urat. Saya mengangguk keheranan dan mengiyakan saja.

Kedua, yang saya rasakan tidak pernah sesakit itu. Kalaupun sampai keseleo parah gara-gara volly atau sepak bola tidak ada atau belum pernah merasa sesakit itu. jangankan untuk berdiri, keusap saja sudah luar biasa sakitnya.

Ada Kabar Baik

Setelah beberapa hari terbaring, dan sudah bisa shalat sambil berdiri, tepat jam 09 malam hari, bapak saya mengetuk pintu kamar saya yang sudah padam karena saya sudah siap-siap tidur. Beiau mengatakan bahwa akan ada rombongan yang mau berobat ke Bayongbong. Kalau mau ikut nanti jam 04.00

Saat itu say agak ragu karena masih lemas. Namun karena saya lihat bapak saya sangat ingin saya sembuh, kelihatan dari nada bicaranya, maka saya memutuskan untuk ikut.

Pukul 04 Dini Hari

Tepat pukul 03 saya sudah terbangun dan langsung take a bath dan mandi dengan sempurna. Kemudian sejenak shalat dan baca Qur'an. Setelah itu Bapak saya memberikan uang Rp 300.000 dan dari Ibu Rp 100.000,-.

Setelah pukul 03.50 saya langsung ke depan, Jalan Raya Jayanti, karena mobil menunggu di sana. Setelah beberapa lam menunggu kami akhirnya jalan sebelum shubuh. Kemudian berhenti dahulu di daerah Nempel untuk menunggu dua orang penumpang yang mau bergabung.

Setelah itu satu penumpang (pasien sama seperti saya: punya penyakit maag), kami melanjutkan perjalanan. Ternyata saat itu satu orang lagi belum datang hingga kami harus agak lama menunggu,. Bahkan kami sudah mulai agak kesal menunggu. Akhirnya kami memutuskan umtuk jalan.

Selang beberapa waktu sambil mencari Masjid untuk shalat Shubuh kami berhenti di Cipancong dan di sana ada masjid yang sangat Indah. Kami Shalat dan berdo'a di sana. Lalu kami melanjutan perjalanan.



Belum lama mobil melaju, Bapak sopir mendapatkan info bahwa pasien yang tadi belu datang sudah menyusul untuk bergabung, kami menunggu sambil jalan, dan berhenti bersama mobil Bapak Rojak yang juga sama akan menuju Bayongbong.


Belum lama mendadak ada motor yang ngebut dan kami langsung mengenali itu pasti pasien yang nyusul tadi. kami buru-buru naik dan menyusul motor yang melaju kencang tadi.

Pas ketemu ternyata motor yang tadi sudah mau balik arah, menyangka mungkin kami tidak akan tersusul, padahal kami ada di belakangnya. Akhirnya pasangka-sangka. Setelah ketemu pasien yang ternyata ibu-ibu setengah baya langsung masuk dan bercerita.. Kami melanjutkan perjalan lagi dengan tarikan gas mobil yang agak cepat dari tadi.

Keadaan Santolo dan Sayang Heulang

Kami tiba di Santolo dan Sayang Heulang tepat jam 06.30. Kami lihat sangat lengang dan mentari pagi baru kelihatan memerahkan langit. Santolo dan Sayang Heulang nampaknya baru bangun dan menggeliat. Langit biru sebentar lagi akan menaungi Santolo dan Sayang Heulang. Dan keindahan perawan Pantai Selatan akan menampakkan aura mempesona di bawah meha sutera yang putih. Kami harus melaju dan bukan untuk rekreasi tujuan kami. Cuma untuk sekedar info bahwa jalan ke Pantai Santolo di pagi hari buta sangat patut untuk dicoba. Dinginndan segarnya udara pantai membuat saraf-saraf kembali sangat responsif mengahantar impuls.


Tidur saat Jalan Berkelok

Setelah lepas Santolo Sayang Heulang dan memasuki Pameungpeuk jalanan sudah mulai berbeda. Banyak belokan tajam membuat kepala pening dan perut serasa ingin mengeluarkan isinya. Maka sesat kemudian penumpang sudah mulai luh-lah dan memegang pening. Maklum saja semua dalam kondisi tidak sehat. Kecuali Pak Gungun dan Sopir kami semua rupanya sedang mabuk daratan.

Saya memutuskan untuk berusaha tidur sementara yang lain berlomba mengeluarkan kandungan perut dan memijit kening masing-masing. saya tertidur hingga Leuweung Poek dan perjalanan harus dihentikan karena kondisi penumpang sudah sangat melemah. Ternyat itu baru setengah perjalanan.


Kami makan bersama dan beristirahat di warung makan dekat tempat pengolahan, penghalusan, pembentukan, pemotongan batu akik. Jalan-jalan untuk menyrgarkan badan dan lihat-lihat bongkahan batu akaik menjadi kegiatan yang cukup menyenangkan.

Sampai di Bayongbong Saya tertidur

Saat itu karena merasakan pening yang luar biasa ditambah daya tahan tubuh yang tidak stabil saya berusaha untuk tidr kembalai. saya ogah untuk mendengar suara-suara aneh orang mabuk yang memancing kandungan perutku untuk meloncat.

Sampai di Bayongbong

Tepat jam 11 kami tiba di bayongbong. Udara cukup panas. Tempat pengobatannya sederhana saja ada dua ruangan besar dan satu lantai atas. kami daftar dan langsung menuju masjid untuk buang air kecil dan memesan sup buah yang segar. Satu bungkus sup buah sangat membuat udara segar.


Sesaat kemudian adzan Zhuhur berkimandang tapi nama saya sudah dipanggil maka saya menunggu dan memutuskan untuk menjamak shalat. Setelah antri tiba giliran saya. Pertama adalah kai kanan dahulu kemudian kaki kiri dan ditekan didaerah perut lalu dikasih obat dan membeli 4 botol air do'a.


Saatnya Pulang

Sepanjang perjalan dari Bayongbong ke Pameungpeuk hujan deras. Beberapa bagian jalan tergenag air yang cukup dalam. Bahkan ad bahu jalan yang sampai 40 cm-an terendam banjir. Saya tidak begitu ambil pusing dan mempersiapkan tubuh saya untuk beristirahat dan tidur kembali. Saya melakukan auto sugestion untuk tidur.


Saya terbangun di daerah Pameungpeuk dan mobil berhenti di Rumah makan Leuweung P{oek tempat kami tadi beristirahat. Hujan kembali deras. Kami satu persatu menuju WC dan jajan bala-bala. Saya membeli madu di warung itu seharga Rp 50.000.-

Cuaca di Santolo 22 April 2015

Cuaca saat itu teduh sangat nyaman bagi para wisatawan meskipun untu mengambil poto menjadi kurang baik karena lighting menjadi kurang. Namun saya lihat tetap saja meski mendung banyak pengunjung yang datang dengan robongan-rombongan yang besar dan banyak. Sepertinya mereka pelajar atau mahasiswa. Kelihatan dari wajah dan dandanannya. Cuma saran saja bagi para orang tua harap di dampingi. Kan bukan rahasia lagi para remaja kita bukan hany rekreasi namun seringkali berani melakukan hal yang kurang baik. dan bagi kami selaku orang pantai tidak suka bila pantai kami dipakai melakukan perbuatan yang mengundang bencana bagi kita semua. Bukannya iri karena kagak kebagian, namun memang begitulah, setiap perbuatan dosa ada pengaruhnya yang tidak baik. Begitu pula setiap perbuatan baik pasti ada pengaruh baik setelahnya.

Perjalanan sampai ke Cidaun

Selepas melewati jalan yang berliku dan penuh perjuangan, kami tiba di Sekitaran santolo - Sampai Pelabuhan Jayanti yang jalannya lurus dan besar. Kondisi para penumpang menjadi lebih tenang dan tidak ada yang mabuk lagi.

Mobil yang dikemudikan Kang Kemal melaju kencang denga suarany yang lembut menghantar kami kembali ke rumah masing masing. Tepat jam lima (17.10) kami tiba di Kampung Girang Desa Cidamr Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur. Menara masjid Najatain masih menjadi tanda yang kokoh sebagi bagian kampung kami yangasri, datar, dan madani. Bergegas dan shalat jama' kami lakukan menghamba dan bersujudan serta bersyukur dengan sepenuh jiwa dan raga.

0 comments:

Posting Komentar